Pada tahun 16 sebelum Hijriyah(606 M) ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka'bah, pada saat itu hampir terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah hampir lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat Kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali Hajar Aswat ini ketempat semula karena pemugaran Ka'bah telah selesai.
Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi yang mengatakan "Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk Masjid pada hari ini." Pendapat Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama yang masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia namun pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).
Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?
Muhammad menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorbannya kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang itu ketempat semula.
Seorang ibu datang dengan anaknya menghadap Gandhi. Dan dia berkata,"Bisakah Guru memberitahu anak saya untuk tidak memakan permen lagi?". Gandhi menjawab,"Datanglah seminggu lagi".
Sang ibu pulang dan seminggu datang lagi bersama anaknya. Gandhi berkata, "Anakku,mulai sekarang jangan makan permen lagi". Anak itu memahami dan mengingat Gandhi, dia menurut dan tidak makan permen.
Sang ibu berterimakasih sekali tapi tak kuasa menahan keherenennya dan bertanya,
:"Maaf Guru, mengapa harus seminggu untuk memberitahu anakku?"
Gandhi menjawab, "Karena seminggu yang lalu aku masih suka makan permen juga, sekarang aku sudah berhenti makan permen".
Suatu hari Phytagoras mengundang teman-temannya untuk makan. Tetapi pembantunya melalaikan perintahnya dan tidak menyiapkan makanan. Saat teman-temannya datang, dia tidak panik malah tertawa. Dia berkata, "Hari ini telah kita dapatkan hal-hal yang lebih mulia dari pada alasan pertemuan kita ini, yaitu menahan kemurkaan, menguasai kemarahan, menggenggam kesabaran, dan menghiasi diri dengan kelembutan".
Ada seorang Raja berkata kepada Sokrates,"Apa yang membuatmu tidak mau menghadapku padahal engkau adalah budakku?". Sokrates menjawab,"Jika engkau jujur kepada dirimu, engkau pasti mengerti bahwa aku bukanlah budakmu." Raja bertanya,"Bagaimana bisa begitu?" Sokrates menjawab,"Pernahkah engkau mengetahui bahwa diriku melakukan sesuatu atas dorongan nafsu dan marah?" Raja menjawab,"Tidak" Sokrates bertanya lagi,"Pernahkah engkau begitu?" Raja itu menjawab,"Pernah"
Sokrates berkata,"Saya menguasai nafsu dan marah, sementara keduanya menguasaimu. Jadi engkau adalah budak dari budakku."